Tukeran Link Yuk!

Tukeran Link | Backlink | Link Exchange

Random Post

Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuhan. Tampilkan semua postingan

3.6.13

FILSAFAT VEDA ( 1 )

FILSAFAT VEDA  ( 1 ) Oleh: IBP. Suamba


Pendahuluan 
Filsafat Veda yang dimaksudkan di dalam pembahasan berikut ini adalah pemikiran-pemikiran filsafat yang terkandung di dalam bagian mantra-mantra kitab suci Veda. Mant.ra-rnantra merupakan bagian paling tua dan seluruh kesusastraan Veda yang pada dasarnya berupa pemujaan, pujian dan permohonan anugerah kepada deva-deva yang dipuja. Jadi, penibahasan lebih banyak menekankan pada bagian mantra Veda; mencoba melihat pemikiran-pemikiran spekulatif yang halus pada mantra-mantra tersebut, Hal ml penting sebelum melangkah ke pembahasan selanjutnya, karena tradisi intelektual India sepakat memposisikan Veda sebagai titik tolak perkembangan pemikiran filsafat baik yang tergolong astika maupun nästika.
Walaupun demikian, Frauwallner mengatakan bahwa adalah kesalahan besar mengharapkan untuk menemukan di dalam Veda suatu koleksi konsisten karya-karya filsafat. Veda pada awalnya tidak ada kaitannya dengan filsafat. Lebih baik mengatakan filsafat telah memulai jalannya di sini secara perlahan-lahan melalui perkembangan Veda itu sendiri, mulai dari Mantra, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad. Filsafat India (darsana) mendapatkan benih-benihnya di dalam mantra-mantra Veda, namun pikiran-pikiran spekulatif metafisika tersebut masih belum sistematis yang layak disebut. sistem filsafat. Cukup banyak ada hal-hal yang tidak konsisten di dalamnya. Unsur-unsur mitos atau legenda memang perlu 
dipisahkan dari unsur-unsur filsafatnya manakala kita ingin melihat Veda sebagai titik awal kesusastraan India dan fase awal perkembangan filsafat India. Sebagai kelanjutan proses pérkembangan intekktual para rsi di zaman silam, Veda khususnya bagian mantra samhita-nya dapat dipandang sebagai titik tolak perkembangan filsafat India sebelum mendapatkan bentuknya yang mapan. Sebagai otoritas tertinggi, Veda ditanggapi secara positif maupun negatif oleh para filosof. Apapun jenis tanggapan tersebut, Veda diposisikan sebagai cikal bakal perkembangan sistem filsafat India. Sebagai dokumen literer Veda adalah tonggak perkembangan filsafat.
Tidak hanya di bidang filsafat, kebudayaan dan peradaban India secara umum mengalir dari nilai-nilai Veda. Menyinggung maha luasnya cakupan kesusastraan India, E. Frauwallner mengatakan filsafat India adalah lautan maha luas yang sulit dilayari. Tidak ada ras bangsa di dunia yang mempunyai kesusastraan filsafat dan agama yang dapat dibandingkan dengan kesusastraan India di dalam ukuran, kekayaan, dan keragaman isi. 
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah mampu diberlanjutkan melalui reinterpretasi, reposisi dan reformasi dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pembelajaran di dalam suatu tradisi intelektual atau garis perguruan (guru parampara). Tantangan dan cobaan dari pihak-pihak luar atau asing yang datang ke India maupun pertentangan-pertentangan internal menyebabkan para pemikir India kuno dan moderen 
mencari jalan agar peradaban besar ini bisa tetap diteruskan dari satu masa ke masa berikutnya melalui kebebasan berfikir dan berkreasi. Liberalisme di dalam pemikiran ini memungkinkan peradaban Veda berkembang sesuai dengan masanya sekaligus menjawab tantangan masa tersebut. Paham-paham theistik dan atheistik; monistik dan pluralistick skeptik dan agnostik hidup berdampingan sebagai wujud keragaman dan keniscayaan peradaban.


Studi-studi India oleh sarjana Barat seperti dipelopori Celebrooke, Max Muller, Macdonell, Winternitz, Griffith, Bloomfield, Whitney, Rys Davis, dan lain-lain didorong oleh semangat rumpun bangsa atau ras Indo-Eropa telah menyebarkan kebudayaannya melalui bahasa Sansekertanya tidak hanya ke India (Bharata) tetapi juga ke Asia Barat, seperti Persia. Kitab suci Avesta yang merupakan kitab suci agama Zoroaster banyak mempunyai kesamaan dengan konsep-konsep di dalam Veda. Secara linguistik ditemukan adanya titik terang bahwa bangsa Arya yang datang ke India jauh sebelum tarikh Masehi mempunyai leluhur yang sama dengan ras Eropa. Disamping itu, penampilan fisik mereka mempunyai kemiripan. Analisis inilah yang umum diterima oleh para sarjana Indologi sementara ini.
Pembicaraan pada filsafat India yang lebih komprehensif pasti melibatkan telaah terhadap Veda dan kesusastraan Veda (Vedic literature). Dari sini akan diketahui bagaimana suatu pemikiran ritual yang mendominasi kitab-kitab Brahmana berkembang menjadi filsafat monistik pada kitab-kitab upanisad; pemujaan eksternal menjadi internal yang reflektif dan kontemplatif.
Beberapa ide-ide fundamental Veda merefleksikan karakter unik agama dan filsafat. Pendekatan Veda terhadap agama, alam semesta, kehidupan manusia, masyarakat dan Makhluk tertinggi, dalam beberapa aspek esensial, sangat berbeda dari agama-agama yang tergolong Semitis, Veda mengandung keaneka-ragaman doktrin, kepercayaan dan praktek agama, tetapi semuanya ada dalam suatu kesatuan dan harmoni.
Pembahasan berikut mencoba melihat Veda dan perspektif filsafat sebagai landasan perkembangan tradisi filsafat India.

Veda, Dokumen Tertua 
Kitab suci Veda, khususnya bagian mantra samhita, warisan tak ternilai perdaban India kuno diyakini sebagai dokumen tertua dan otentik yang tidak hanya dimiliki oleh ras Indo Eropa tetapi juga ras di seluruh dunia, Samhita merupakan koleksi atau kumpulan mantra yang membentuk Veda dan umumnya dikenal pula dengan Veda. F. Max Muller mengatakan:
“Tidak seorang pun pernah meragukan bahwa di dalam kitab suci Veda kita memiliki monumen tertua bahasa dan pikiran orang-orang Arya, dan; di dalam pengertian tertentu, tentang kesusastraan orang-orang Arya, yang hampir merupakan sebuah jalan yang menakjubkan, telah dijaga dan disampaikan kepada kita selama berabad-abad yang panjang, utamanya melalui tradisi oral”.
Sementara A.C. Bose mengatakan bahwa kitab-kitab upanisad telah menarik perhatian luas tetapi Veda yang diterima sebagai sumbernya selama ini telah diperlakukan lebih kurang sebagai buku-buku tertutup. Adalah benar bahwa porsi-porsi mereka sulit diinterpretasikan dan telah menyebabkan perbedaan-perbedaan pendapat, tetapi untungnya banyak terdapat hal-hal menarik di dalamnya, yang tidak menyebabkan terjadinya banyak kesulitan. Pada tempat lain ia mengatakan kitab-kitab Veda, sumber kebudayaan dan agama India usianya sangat tua. Karena alasan ini, ada kecendrungan di antara sarjana berfikir lebih banyak pada signifikansi anthropologinya dari pada daya tarik puitik dan religinya. Tentu perlakuan ini tidaklah adil terhadap warisan agung peradaban dunia. Objek studi seperti itu memandang Veda dan kesusastraannya sebagai benda mati yang tidak mempunyai nilai-nilai praktis. Interaksi antara peneliti dengan teks-teks Veda akan memungkinkan adanya apresiasi di pihak peneliti walaupun berisiko terhadap keobjektifan atau keilmiahan hasil penelitiannya.
Peradaban India berkembang dan dijiwai nilai-nilai Veda. Orang-orang Arya yang datang ke India jauh sebelum Masehi membawa peradaban Veda, yaitu Rg-Veda dengan bahasa Sansekertanya. Namun, sebelumnya di India telah berkembang peradaban yang sangat maju yang bercorak Sivaistis seperti diperlihatkan oleh penggalian-penggalian arkeologis di Harappa dan Mohenjodaro sebagai bagian dari peradaban lembah sungai Indus. Dalam perjalanan waktu bangsa Arya mengambil hal-hal non Veda ke dalam Veda sehingga nampak adanya persenyawaan antara keduanya pada kitab-kitab Veda setelah Rg-Veda, khususnya pada Atarva-veda. Demikian juga, sistem filsafat (darsana) mendapatkan benih-benih ide filsafat dari Veda.
Kitab suci Veda terdiri dari banyak buku atau kitab yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dengan cakupan yang sangat luas baik spiritual maupun sekuler. Kesusastraan Veda mengalir dari Veda baik yang tergolong Sruti (wahyu Tuhan) maupun smrti (dharmasastra). “Veda” artinya pengetahuan. Segala bentuk pengetahuan dapat digolongkan ke dalam Veda.WHD No. 443 Januari 2004.

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Mengapa Bali tetap Hindu?


Setelah keruntuhan Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen. Bali, menurut mendiang Clifford Geertz, sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali? Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya "A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm" memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.
Di bawah subjudul "Why Bali Remained Hindu" Pringle menulis sebagai berikut : Kenapa, setelah keruntuhan Mahapahit, Bali tetap jauh tinggi (aloof) dari kecendrungan kepulauan Nusantara dan gagal memeluk Islam? Geografi tentu saja bukan jawaban yang cukup; seperti dicatat sebelumnya, Selat Bali yang sempit dan dangkal, yang memisahkan pulau ini dari Jawa, tidak pernah merupakan hambatan serius bagi perobahan. Tentu saja ada hambatan-hambatan kultural bagi penetrasi Islam – kegemaran akan daging babi adalah hal yang sering dikutip – tetapi hambatan yang sama ada di Jawa, di mana konversi kepada Islam sungguh-sungguh, sekalipun sering hanya secara nominal, bersifat universal. 


Orang-orang Bali tidak pernah secara sungguh-sungguh anti Islam. Komunitas Islam terus ada (di Bali) paska Majapahit. Puri-puri dan para penguasa Bali tetap menerima kehadiran orang Muslim sebagai pedagang dan menyewa mereka sebagai tentara. 


Waktu memberikan orang-orang Bali Hindu ruang nafas politik. Tidak ada kerajaan Islam yang kuat di Jawa sampai kemunculan Mataram, yang mulai pada akhir abad 16, hampir seratus tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sementara Mataram mampu mengusir orang-orang Bali dari Belambangan secara temporer, Gelgel dan kerajaan penerusnya tetap kuat yang membuat invasi ke Bali menjadi sulit, dengan atau tanpa dukungan Belanda. (Tambahan dari saya : Bahkan Bali, diwakili oleh Buleleng atau Mengwi mampu menguasai sebagian Jawa Timur. Karangasem menguasai Lombok. Ketika Dalem Samprangan berkuasa, kekuasaannya meliputi Sumbawa. Bali pernah mempersiapkan diri untuk menyerang Mataram).


Bagaimanapun juga, Mataram pertama-tama sibuk dengan saingan-saingannya di Jawa, dan kemudian dengan Belanda, tampaknya tidak tergoda oleh pertimbangan untuk melakukan pengislaman dengan api dan pedang di antara berbagai kantong orang-orang tidak percaya sepanjang pesisir sebelah timur Jawa.


Belakangan, ekspansi Belanda melemparkan Mataram pada posisi defensif. Ketika kekuatan Belanda semakin berkembang, yang akhirnya membuat mereka mampu menguasai saingan-saingan Indonesianya, keuntungan politik yang mungkin didapat oleh para penguasa Bali melalui konversi ke Islam semakin berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali. (hal 70).


Kutipan di atas berasal dari tulisan saya di Media Hindu no 39 dengan judul "Mengapa Bali Tetap Hindu." Sekarang judulnya saya robah agar bernada pesimis. Sebab jika nadanya optimis, akan diabaikan atau dicemoh. Tetapi jika nadanya pesimis mudah-mudahan ada yang marah atau tersinggung, lalu bangun dari kantuknya. Bagi yang apatis tetap akan apatis, apakah nadanya optimis atau pesimis.


Sekala dan Niskala.


Penjelasan singkat di atas menyatakan bahwa ketahanan Hindu di Bali disebab oleh unsur niskala dan sekala. Mana yang lebih dominan? Menurut saya adalah unsur sekalanya. Kenapa?


Kita jawab dulu apa yang dimaksud dengan sekala dan niskala, dalam pengertian umum saja. Sekala adalah segala hal yang dapat kita lihat, kita raba, hal-hal dari dunia materi ini. Niskala, adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat atau diraba, tetapi kita yakini keberadaannya. Atau hal-hal yang bersifat kerohanian seperti kepercayaan akan adanya Tuhan, para Dewa/Betara, sorga, neraka, moksha dll. 


Ketika Hindu berjaya pada jaman Majapahit, unsur niskalanya pasti ada. Tetapi karena unsur sekala diabaikan, maka Hindu runtuh dengan mudah. Majapahit runtuh bukan oleh serbuan tentara asing, tetapi oleh keyakinan asing yang diterima tanpa reserve oleh penguasa dan juga kawula yang beritikad baik dan sangat toleran tetapi tidak waspada. 


Menyerahkan pemeliharaan agama Hindu hanya kepada yang niskala saja, sudah terbukti gagal. Dua buah bangunan yang sama besar, luas dan tingginya, dibuat dari bahan yang sama di tempat yang berdampingan. Satu bangunan untuk tempat ibadah. Bangunan lain untuk kasino, pusat kenikmatan, termasuk yang bersifat seksual. Bangunan pertama tidak diberi penangkal petir, karena yakin Tuhan memelihara "rumahnya". Bangunan kedua, karena sadar tempat ini sangat berbau duniawi diberi penangkal petir. Ketika petir terjadi di wilayah itu, kemungkinan yang akan rusak terbakar adalah "rumah" Tuhan itu. Sedangkan bangunan kasino akan selamat. Hukum alam tidak akan membedakan bangunan suci atau bangunan duniawi, termasuk yang digolongkan maksiat sekalipun.


Di dalam perang antara Kaurawa dengan Pandawa di Kuruksetra, hal itu juga tercermin dengan jelas. Krishna yang merupakan lambang niskala, hanya berfungsi sebagai penasehat. Arjuna, yang merupakan simbol niskala, harus melakukan peperangan untuk menjaga kebenaran. Kenapa demikian? Manusia memiliki otonominya sendirinya; memiliki kebebasan untuk memilih dharma atau adharma. Manusia harus aktif menjaga kebenaran dan kedamaian. Dengan kata lain, yang niskala menghormati kebebasan yang sekala. 


Kembali ke inti pembicaraan, Bali tetap Hindu, karena secara militer waktu itu sangat kuat. Sebelum abad 19 pulau Bali dihindari oleh pelaut asing, karena penduduknya dianggap sangat "savage" Opini ini berobah setelah maskapai pelayaran Belanda, untuk kepentingan pariwisata, membentuk opini Bali sebagai pulau sorga yang damai dan eksotik. 


The Battle of Mind.


Sekarang tentu saja kita tidak perlu menjaga Hindu di Bali secara militer. Sebab "pertempurannya" sekarang tidak memakai pedang, tombak atau keris. Tetapi memakai senjata yagn jauh lebih ekfektif yaitu intelek - "The Battle of Mind" Medannya, dari ruang publik sampai ruang privat. Kotbah-kotbah umum, apakah itu namanya tablig, atau kotbah penyembuhan. Buku-buku pelajaran, pengajaran dan kuliah-kuliah agama di ruang kelas. Tulisan di media massa. Berita, sineteron, kotbah di media elektronik. Yang terakhir ini yang paling hebat. Ia menembus masuk ke ruang-ruang pribadi setiap orang, termasuk kamar-kamar tidur orang-orang Hindu, yang yang berpendidikan tinggi ataupuan yang buta huruf.


Di sinilah kelemahan kita. Orang Hindu hampir tidak ada yang memiliki media massa nasional, cetak maupun elektronik. Media massa ini, khususnya tv, ada beberapa yang memberikan kesempatan bagi siar Hindu. Namun kita belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Tv di Bali, yang memberikan slot cukup besar kepada siar Hindu, mutu siarannya masih lemah. Beberapa waktu lalu di sini ada posting yang menyatakan geli mendengar siaran Hindu di tv lokal itu. Bila dibandingkan dengan kotbah pendeta atau ulama dari agama lain yang membangkitkan semangat dan motivasi, dharma wacana orang Hindu masih jauh. 


Di dalam "the Battle of Sword" orang bisa terluka atau mati. Di dalam "the Battle of Mind" pasti tidak akan ada yang luka apalagi mati. Tetapi justru ada kesan orang-orang Bali enggan atau mungkin takut terlibat di dalam "the Battle of Mind." Dulu, seorang pejabat tinggi Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, wanti-wanti berpesan agar Media Hindu tidak memuat berita tentang orang-orang agama lain yang kembali (rekonversi) ke Hindu. Padahal berita itu ada sumbernya yang jelas, dan itu terjadi di India. Di tv Indonesia ada berbagai tayangan tentang orang-orang yang baru beralih agama, apakah ke Islam atau Kristen. Mengapa dia takut? Saya tidak tahu karena ia tidak bicara langsung kepada saya. Dia memang bukan representasi seluruh masyarakat Hindu di Indonesia. Tetapi dia juga bukan satu pengecualian.


Pejabat tinggi ini juga meminta kepada Sekolah Tinggi Agama Hindu di Jakarta atau Lampung untuk tidak memberi kuliah perbandingan agama. Bila kita tidak tahu agama-agama lain, bagaimana kita dapat melakukan dialog kritis dengan mereka? Melakukan dialog kritis tidak berarti membenci suatu suatu agama atau pemeluk agama tersebut. Bahkan dialog intelek tidak bisa dilakukan berdasarkan kebencian. Sebab kebencian akan menggelapkan rasio dan dengan demikian melemahkan argumennya.


Oleh karena itu jangan buru-buru melompat pada kesimpulan bahwa memberikan pandangan kritis atau sekedar mengungkap fakta sejarah adalah penghujatan atau upaya menjelek-jelekkan. Agama, seperti ideology, memerlukan kritik untuk memperbaiki dirinya. Sama seperti kita, kita telah mengambil kritik dari luar maupun dari dalam untuk memperbaiki perilaku dan pemahaman keagamaan kita. Jadi setiap pemeluk agama harus bersikap dewasa di dalam hal ini. Kita telah menunjukkan kedewasaan, ketika dikatakan kafir dan penyembah berhala kita tidak berang dan menggangkat pedang.


Tetapi kita perlu mengangkat pedang yang lain, yaitu pedang intelek, untuk memberi penjelasan, bahwa kita bukan menyembah berhala, tetapi menyembah Tuhan, Tuhan yang jauh lebih baik dari tuhan mereka, Tuhan yang adil. Tuhan bagi seluruh mahluk, bukan tuhan yang berpihak pada sekelompok orang, yang menganjurkan kebencian dan kekerasan kepada kelompok yang lain. Dan dengan cara yang lebih indah dan lebih pula.


Dr David Frawley, direktur satu Yoga Center di AS, mengharapkan lahirnya para ksatriya intelektual untuk menjaga eksistensi Hindu. 


Analogi Sumur dan Rakit.


Seorang penganjur bahwa semua agama adalah sama, pernah menulis di Media Hindu, justru karena semua agama sama maka orang tidak perlu pindah-pindah agama. Secara logika pernyataan ini tepat. Kalau semua agama sama buat apa pindah agama? Tetapi ia memberikan argumen yang menarik. Ibarat orang menggali sumur; baru menggali lima meter tidak menemukan air, lalu pindah ke tempat lain, di tempat baru ini ia menggali lima meter, tidak juga bertemu air. Bila terus demikian, maka penggali sumur itu akan sia-sia saja. Oleh karena itu setiap orang seharusnya terus menggali sedalam mungkin, sampai ia menemukan air yang dicarinya. 


Di dalam praktek tidaklah demikian. Kalau setelah menggali sedalam 10 meter, lalu yang ditemukan batu karang, untuk apa diteruskan? Atau bertemu air, tetapi baunya busuk, tentu orang akan pindah mencari lokasi lain untuk digali.


Tetapi secara analogi ini juga tidak tepat. .Seorang teman saya, orang Protestan, dengan gelar master dobel, satu dari AS, satu dari Australia, berkata kepada saya. "Bapak akan puas, bila dapat menundukkan diri sendiri. Karena agama bapak meminta bapak melihat ke dalam. Kalau saya lain lagi. Saya baru akan puas, ketika saya dapat menundukkan bapak agar ikut agama saya."


Dia adalah orang awam sama seperti saya. Tetapi pendapatnya itu ada dasarnya dalam Injil, yaitu perintah bagi setiap orang Kristen untuk pergi ke segala penjuru bumi, dan menjadikan bangsa-bangsa murid Yesus. Islam jug demikian. Nabi mereka, sampai akhir hayatnya meminta para pengikutnya untuk terus berjihad menjadikan Islam satu-satunya agama bagi dunia. 


Bila semua agama memerintahkan pengikutnya untuk "menggali sumur" atau melihat ke dalam sampai berjumpa dengan "dirinya sendiri" dunia ini pasti akan aman dan damai. Tetapi nyatanya tidak demikian. 


Ketika si Hindu sibuk menggali sumur semakin dalam, si Kristen dan si Islam sibuk berebut wilayah sekitar sumur. Ketika si Hindu kembali dari kedalaman bumi membawa air murni sambil meproklamirkan "semua air sama saja" ia menemukan air itu hanya berguna bagi dirinya sendiri, karena wilayahnya sudah dimiliki si Kristen atau / bersama si Islam. Si Kristen dan si Islam tidak membutuhkan air yang diambil dari inti bumi. Bagi mereka air sungai atau pancuran sudah cukup.


Apakah si Hindu harus memasang pagar atau menyewa centeng untuk menjaga wilayahnya? Ini bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Bila ia melakukan itu, artinya ia melaksanakan apa yang ditolaknya, bahwa agama mengkotak-kotakkan dan bahwa agama tidak perlu dibela. Jadi ia dapat lepas dari dilemma ini, hanya bila ia melepaskan identitas Hindunya.


Analogi rakit, agama hanya sekedar rakit, agak berbeda tetapi menghadapi dilemma yang sama. Analogi ini ada benarnya. Tetapi siapapun yang membuat analogi ini hanya melihatnya dari agama Hindu saja. Bagi Hindu dan juga Buddha, benar, agama hanyalah sarana untuk menyeberangkan manusia dari wilayah kehidupan sampai di batas wilayah kematian (atau kehidupan yang lain). Di dunia kehidupan yang lain itu agama memang tidak disebut-sebut lagi.


Tetapi bagi keyakinan Kristen atau Islam tidak demikian. Agama tidak berhenti sampai di tepi kehidupan dunia lain itu, yang mereka sebut dunia akhirat. Agama terus masuk sampai ke inti kehidupan akhirat. Bagi keyakinan orang Kristen, keyakinan mereka akan kebenaran Yesus sebagai Tuhan, atau Putra Allah, yang menyelamatkan mereka. Bagi orang Islam keyakinan mereka kepada Islam dan Muhammad sebagai Nabi akan menyelamakan atau menjamin sorga bagi mereka. Menurut Islam, ketika ia mati dan sampai di pintu alam kubur, dua orang malaikat akan menanyai apa agama dan siapa nabinya. Bila agamanya bukan Islam dan nabinya bukan Muhammad maka jiwa orang itu akan mendapat siksaan kejam. Dan di dalam persidangan pada hari Pengadilan Akhir, Muhammad akan memberi rekomendasi siapa yang masuk sorga atau neraka secara abadi. Allah akan memerima rekomendasi itu.


Di dalam kedua agama ini keyakinan, bukan perbuatan yang menentukan status seseorang di dunia akhirat. Apakah keyakinan semacam ini absurd atau tidak, itulah keyakinan yang dipercayai oleh mereka. 


Jadi di sini analogi rakit menghadapi kesulitannya sendiri. Dan ia hanya melepaskan diri dari kesulitan ini, dengan melepaskan indentitas Hindunya. Tapi apa perdulinya dengan Hindu? Toh hanya rakit. Yang penting ia bebas. Sebuah solusi, yang sayangnya, bersifat mementingkan diri sendiri. Ego.


Kesamenis : Sekutu missonaris 


Pendirian atau pernyataan, seperti "semua agama adalah sama", "agama hanya sekedar rakit", "Sang Hyang Widdhi, Sang Hang Yesus, Allah SWT sama saja" oleh Dr Frank Gaetano Morales (Semua Agama Tidak Sama) disebut sebagai Radical Universalism, atau saya terjemahkan sebagai kesamensime. Sikap ini biasanya dianut oleh orang-orang Hindu. Pada saat lembaga dakwah atau missi agama-agama lain, khususnya Kristen dan Islam begitu gencar menyebarkan agamanya, sikap ini hanya melemahkan posisi Hindu di dalam "the Battle of Mind." Lebih-lebih jika yang mengatakan itu tidak pernah mempelajari agama-agama lain. Ini adalah sikap arogan dari orang yang tidak tahu. Dan sikap semacam ini akan sangat menguntungkan para missionaries, Kristen ataupaun Islam, di dalam upaya mengkonversi orang-orang Hindu di Bali.


Sejalan dengan mereak adalah kelompok yang ingin memisahkan budaya "Bali dengan agama Hindu" untuk membenarkan penggunaan idiom-idiom, dan praktek-praktek Hindu Bali oleh agama-agama lain. "Karena itu adalah budaya Bali, bukan agama Hindu," katanya. Ini adalah sikap permisif yang bersumber pada kemalasan berpikir atau bahkan impotensi intelektual, yang makin memperlemah pertahanan Hindu.


Mempercepat "Perobahan" Bali.


Ada kelompok sampradaya yang berupaya untuk membuang ritual Hindu (ala) Bali dan menggantinya dengan hanya agnihotra, homayajna, atau ritual khas sampradayanya. Tetapi ada juga kelompok sampradaya, yang di samping melakukan ritual sesuai aturan sampradayanya juga menerima ritual Hindu ala Bali. Saya mendapat informasi kelompok sampradaya Hare Krishna, di Bali terbagi dalam dua kelompok. Yang menolak upakara ala Hindu-Bali yang tergabung dalam SAKKHI, dan yang menerima, yaitu yang tergabung dalam ISKCON. Pengikut Sai Baba dalam Anggaran Dasarnya terakhir menyatakan diri bukan sampradaya, tetapi hanya kelompok untuk studi Weda. Jika info ini tidak benar silahkan dikoreksi. 


Dua orang sulinggih yang menjadi tokoh PHDI Besakih dan pimpinan tertinggi Parisada, mengenai ritual kelompok sampradaya yang dilakukan di lapangan Renon pada awal tahun 2006, mengatakan "Itu agama baru. Mereka seharusnya melakukan itu di dalam tempat ibadah mereka sendiri. Bukan di tempat umum!" Pernyataan kedua sulinggih ini saya dengar langsung di suatu griya di Denpasar. Kalau sulinggih dari "kelompok Besakih" saja sudah berpendapat demikian, apalagi sulinggih dari kelompok lain.


Dengan dukungan strategi dakwah yang terencana dan berpengalaman, dana untuk perbedayaan ekonomi dan pendidikan, media massa untuk pembentukan opini, dan birokrasi (dalam kasus Islam) yang memberi kemudahan fasilitas ataupun kesempatan, para missonaris, baik Kristen maupun Islam, akan memperoleh manfaat besar dari ketiga kelompok di atas. Ketiga kelompok di atas, kaum kesamenis, "separatis" yang membedakan antara budaya Bali dengan agama Hindu, dan sampradaya yang membuang ritual ala Hindu Bali, bergabung jadi satu, akan merupakan akselarator perobahan Bali dari Hindu, apakah menjadi Bali Kristen atau Bali Islam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh ketiga kelompok ini adalah semacam bunuh diri massal.


Pendapat saya belum tentu benar. Tapi tolong tunjukkan kepada saya, dari segi apa ketiga pendapat atau kelompok di atas memperkuat Hindu di Bali?


Om santi, santi, santi Om


Ngakan Putu Putra.
Source : HDNet

5.3.13

Apakah Tuhan Semua Agama Sama

Persamaan Pendapat.Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa.Akan tetapi apakah masing masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.

Perbedaan Pendapat.
Perbedaan bahasa. Masing masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti : Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia – Brahman, Inggris – God, Yunani – Deo, Bali – Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.

Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.

Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, karena keyakinan seperti tersebut di bab A. Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja.

Namun ada sebagian umat agama tertentu yang berpendapat bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasanya atau sebutannya. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, D, G, H, S dan Y maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?

Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat eorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.

Jadi kesimpulannya Tuhan Yang Maha Esa ini tetap menjadi Tuhannya berbagai agama yang masing masing bisa saja menyebutNya dengan bahasa yang berbeda.

Perbedaan pemahaman tentang Tuhan.
Pemahaman tentang (Ilmu) keTuhanan, meliputi segala aspek tentang Tuhan. SifatNya, KarsaNya, keMaha SegalaanNya dan keberadaanNya. Didalam ajaran Islam termasuk Tauhid, sedang didalam ajaran Hindu termasuk Tatwa. Tentunya Tuhan mengajarkan dasar dasar Ilmu keTuhanan yang sama untuk berbagai agama. Apabila terjadi perbedaan, karena pemahaman (penafsiran) yang berbeda. Jadi umat agama yang satu dalam menafsirkan ilmu keTuhanan bisa ada perbedaan dengan umat agama lainnya. Sehingga ada hal hal tertentu yang satu sama lain tafsirannya sama, ada hal hal lain yang tafsirannya berbeda. Bahkan dalam satu agamapun yang berbeda golongan, bisa terjadi beda tafsir. Penyebabnya disamping perbedaan ruang dan waktu, juga karena perbedaan tingkat spiritual dan perbedaan kemampuan daya pikir, yang resultantenya berupa perbedaan tingkat kesadaran berkeTuhanan. Gus Dur secara bergurau menceritakan ada 3 orang yaitu seorang pastur, seorang pendeta Hindu dan seorang kyai, berdialog tentang kedekatan umat dengan Tuhan. Sang pastur mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Bapak, untuk menunjukkan kedekatannya, ibarat bapak dengan anak. Sang pendeta mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Om (yang oleh Gus Dur diartikan sebagai paman), bukankah antara paman dengan keponakan juga dekat. Sang kyai tadinya diam saja, kemudian didesak untuk berpendapat, akhirnya mengatakan : ”Umat saya boro boro dekat dengan Tuhan, untuk memanggil saja harus bikin menara terlebih dulu, sudah itu teriak teriak meskipun sudah pakai pengeras suara, supaya Tuhan yang jauh dilangit sap 7 bisa mendengar”. Guyonan ini menyiratkan perbedaan prinsip tentang dimana Tuhan berada.

Sebagai contoh umat Hindu meyakini bahwa Tuhan sudah berada didalam hati manusia. Sedang umat Islam menafsirkan Tuhan berada di Arasy, yaitu bersinggasana di atas langit sap ke tujuh. Jika demikian apakah Tuhan umat Hindu berbeda dengan Tuhan umat Islam? Untuk menjawab perlu analogi.

Suatu ketika Kulkas, Setlika dan Kipas angin berdialog tentang Sumber tenaganya yaitu Listrik. Kulkas berkata: “Listrik itu dingin, buktinya aliran listrik menjadikan saya menjadi dingin”. Setlika membantah dengan mengatakan: “Kulkas kamu salah, Listrik yang benar itu panas, buktinya kalau Listrik datang, saya menjadi panas”. Kipas angin berpendapat lain lagi: “Listrik yang benar itu berputar dan menimbulkan angin yang segar. Kalau menjadikan rasa dingin atau panas itu bukan Listrik”. Ketiganya berbantah berdasarkan yang dirasakan sendiri, sehingga tak ada ujung penyelesaiannya. Sampai kemudian datang Sarjana Listrik memberikan pencerahan dengan mengatakan: “Kulkas, Setlika dan Kipas angin, kalian semuanya benar sesuai dengan yang masing masing alami dan rasakan. Oleh karena itu tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Ketahuilah bahwa Listrik itu dapat menimbulkan dingin, panas dan angin sesuai dengan kapasitas dan potensi kalian masing masing. Bahkan lebih dari itu, bila Lampu berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan cahaya, bila Radio berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan suara, bila TV berhubungan dengan listrik dapat menimbulkan gambar dan masih banyak lagi kemampuan Sang Listrik, sekali lagi sesuai dengan kapasitas dan potensi masing masing”. Setelah mendapatkan pencerahan dari Sarjana Listrik maka ketiga saudara Kulkas, Setlika dan Kipas angin menjadi faham dan rukun kembali.

Demikian pula dengan pemahaman umat Islam, bahwa Tuhan berada di Arasy yaitu singgasana diatas langit sap tujuh. Sedang pemahaman umat Hindu, Tuhan berada didalam hati setiap manusia. Keduanya satu sama lain berbeda pemahaman, tetapi keduanya bisa benar, karena Tuhan meliputi semesta alam dan seisinya. Bahkan apabila ada anggapan Tuhan berada lebih jauh dari langit sap tujuh yaitu di ujung galaxy yang jaraknya dari bumi membutuhkan waktu jutaan tahun kecepatan cahaya, juga tidak salah karena Tuhan memang juga ada disana. Sebaliknya apabila ada pendapat bahwa Tuhan sudah menyatu didalam hati setiap umatnya, sebagaimana anggapan kelompok penghayat kepercayaan, juga tidak dapat disalahkan, karena sekali lagi, Tuhan meliputi semesta alam seisinya baik itu ditempat yang dekat sekali maupun ditempat yang jauh sekali. Orang Jawa bijak menyatukan dua pendapat yang berbeda itu dengan ungkapan : Cedak ora sesenggolan, adoh tanpa antara. Terjemahannya dekat tidak bersinggungan jauh tanpa jarak, yang artinya adalah bertunggalnya umat dengan Tuhan yang meliputi semesta alam seisinya.

Pengalaman penulis tahun 1996 ketika masih dinas di Surakarta, dengan staf berjumlah 40 PNS. Yang beragama Islam sebanyak 30 orang kami kumpulkan di ruang rapat dan ditanya : “Apakah Tuhan agama Kristen sama dengan Tuhan agama Islam?”. Hampir semuanya menjawab tidak sama, kecuali 3 orang yang termasuk Islam Abangan (yang sekedar tercantum di KTP beragama Islam) serta 1 orang penganut kepercayaan (juga ber KTP Islam) menjawab sama. Dilain waktu 10 orang yang beragama Kristen ketika ditanya : “Apakah Tuhan agama Islam sama dengan Tuhan agama Kristen?”. Semuanya menjawab sama. Sambil menguji, pertanyaan kami selanjutnya :”Bagaimana dengan pandangan umat Islam bahwa umat Kristen berTuhan 2 yaitu Tuhan Allah (Allah Sang Bapa) dan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra)?”. Sejenak diam hingga ada beberapa orang yang menjawab yang apabila dirangkum jawabannya sbb :

Pada prinsipnya Kristen menganut satu Tuhan juga, sedang sebutan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra) mengandung maksud :

Bahwa Yesus itu sudah sedemikian dekatnya dengan Allah, ibarat anak dengan bapak, maka disebut Allah Sang Putra. Kami semua ini kalau betul betul menjadi Kristen seperti yang diajarkan Yesus, juga dapat disebut Anak Allah, karena dekat dengan Allah, ibarat anak dengan bapak.

Sebutan Tuhan Yesus, untuk memberikan pemahaman dan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Yesus itu tidak hanya dekat dengan Tuhan, bahkan Roh Yesus itu sudah menyatu dengan Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang dirasakan, diucapkan dan dilakukan Yesus adalah Kehendak Tuhan, Keadilan Tuhan, Kebijaksanaan Tuhan dan Kekuasaan Tuhan.

Atas pertanyaan :”Kalau begitu mengapa tidak menyebut saja Tuhan Allah, sedang sebutan Tuhan Yesus tidak usah dipakai?”, jawabnya adalah sebutan Tuhan Yesus untuk menunjukkan identitas sebagai umat Kristiani, sekaligus untuk selalu mengingat Yesus sebagai Nabi, Utusan Tuhan, Juru Penolong, Juru Penghibur dan Juru Penuntun dijalan benar.

Dari rangkuman jawaban diatas, dapat ditambahkan bahwa ungkapan Yesus sebagai Anak Allah adalah kiasan, jadi bukan berarti anak biologis Tuhan. Sebutan Tuhan Yesus diberikan karena pada hakekatnya Yesus itu, mengambil istilah para penghayat kepercayaan, sudah mencapai tingkat Manunggaling Kawula Gusti, didalam ajaran Hindu disebut sebagai Moksha yaitu menyatunya Atman denga Brahman. Sedang Tuhan Yesus dan Tuhan Allah, bukan berarti ada 2 Tuhan. Seperti diagama Islam disebut Al Rahman, Al Rahiim, Al Malik, Al Quddus, Al Salaam, Al Mukmin, dstnya ada 99 nama didalam Asmaul Husna, bukan berarti Tuhan ada 99. Demikian pula didalam ajaran Hindu ada Brahma sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pencipta, Wisnu sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pemelihara dan Siwa sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pelebur; bukan berarti Tuhan ada 3.

Betulkah Ada Banyak Tuhan?
Sebagian besar umat Islam tingkatan awam, menyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang satu, bukan 2 dan bukan 3, yang sebutannya Allah. Sang Hyang Widhi, Yahweh, Deo dan God adalah Tuhan agama lain! Pernyataan ini berarti bahwa mereka menganggap ada banyak Tuhan, yaitu Tuhannya agama lain. Ada Tuhan yang namanya Sang Hyang Widhi yang khusus menguasai kehidupan umat Hindu, ada Tuhan yang namanya Yahweh yang khusus mengatur nasib umat Yahudi, dstnya. Jadi bila penduduk dunia ini ada 7 milyard, maka Allah hanya berkuasa terhadap I,5 milyard yang beragama Islam, sedang yang 5,5 milyard dikuasai oleh Tuhan Tuhan lain yang sebutannya bukan Allah? Jika demikian halnya maka Tuhan yang telah menciptakan seluruh umat manusia yang berjumlah 7 milyard ini, tidak diakui oleh umat Islam yang Tuhannya hanya mencipta 1,5 M umat Islam?

Terlepas dari anggapan diatas, adalah suatu fakta (kenyataan) bukan sekedar kepercayaan, bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu, yang tiada duanya, adalah yang menguasai dan mengatur kehidupan seluruh 7 milyard manusia apapun agamanya dan apapun sebutan yang diberikan kepada Tuhan. Bahkan yang tidak berTuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhanpun, tetap dikuasai oleh Tuhan.

Dalam kehidupan sehari hari yang dialami orang perorang, meskipun untuk hal yang sangat sepele sekalipun, tidak bisa lepas dari Kekuasaan Tuhan, Keadilan Tuhan dan Kehendak Tuhan. Jadi sekecil apapun kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sekecil apapun keburukan akan memperoleh balasan keburukan, inilah bukti Keadilan Tuhan. Didalam ajaran Hindu termasuk bagian dari Hukum Karma, meskipun para kyai dan ustadz mengatakan ajaran Islam tidak ada Hukum Karma, namun setiap umat Islam tetap tidak dapat lepas dari Hukum Karma, termasuk terhadap para kyai itu. Bahkan tujuan hidup umat Hindu yaitu Moksha (Manunggaling Kawula Gusti) adalah tujuan akhir dari setiap Ruh umat Islam juga, meskipun tidak disadarinya. Seperti reinkarnasi, tidak hanya terjadi pada umat Hindu dan Budha, tetapi seluruh umat manusia yang beragama Islam dan Kristen, bahkan yang tidak beragama dan yang tidak percaya reinkarnasi, akan mengalami reinkarnasi itu. Jadi meskipun umat Islam tidak mempercayai dan tidak menyadari bahwa Tuhannya dapat melakukan reinkarnasi terhadap mereka, namun Allah tetap melakukan reinkarnasi terhadap mereka. Apalagi doa bagi yang meninggal dunia hanya sebatas :”Kembali disisi Tuhan”, berarti meninggal belum sempurna, maka perlu dihidupkan kembali didunia sekali atau berkali kali lagi sampai pada tingkat meninggal yang sempurna yaitu : “ Bertunggal dengan Tuhan”. Penalaran spiritual mengatakan, kalau begitu umat Islam tidak pernah sampai pada tingkat bertunggal dengan Tuhan karena memahami saja belum, oleh karena itu setelah meninggal selalu dihidupkan kembali sampai memperoleh keberuntungan masuk dalam keluarga Hindu, sehingga mencapai tingkat kesadaran tertinggi yaitu bercita cita untuk bertunggal dengan Tuhan. Oleh karena itu keluarga Hindu harus menerima dengan tulus dan ikhlas, jiwa jiwa orang Islam yang telah meninggal dan hidup kembali (mungkin menjadi anak atau cucu) agar kematian berikutnya mencapai kesempurnaan, yaitu moksha. Sebab kalau hidup kembali tetap berada di keluarga Islam, kasihan sekali, tidak akan dapat bertunggal dengan Tuhan. Lebih kasihan lagi yang dulunya sudah Hindu, kemudian hidup kembali sebagai orang Islam. Inilah yang dialami oleh mayoritas orang Jawa dan Sunda yang hidup diabad ini.

Kesimpulan.
Masing masing umat beragama pada dasarnya meyakini bahwa semesta alam dan seisinya, termasuk 7 milyard manusia ini, diciptakan dan dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Tuhan Yang Maha Tunggal, sebagai satu satunya pencipta kejadian, termasuk menciptakan kejadian berbagai bahasa dan agama, adalah tetap menjadi satu satunya Tuhan yang dipercayai dan disembah oleh semua umat beragama, meskipun masing masing menyebut dengan nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa atau sebutan yang dianut oleh masing masing agama.

Perbedaan ajaran agama sebaiknya disikapi secara positif, sebagai pentahapan tingkat kesadaran yang berjenjang. Selayaknya yang berada ditingkat kesadaran diatas dapat memahami yang masih berada ditingkat kesadaran dibawahnya. Sebaliknya, tidaklah menjadi masalah apabila yang masih berada ditingkat bawah tidak dapat memahami yang diatasnya, karena hal ini adalah wajar. Sehingga apabila ada agama baru yang mengajarkan tingkat kesadaran berkeTuhanan yang masih rendah dengan menganggap Tuhannya yang paling benar dan agamanya yang paling baik, tidak perlu disikapi dengan cara yang sama oleh umat agama yang lebih tua. Mudah mudahan dengan melalui proses reinkarnasi, tahap demi tahap dapat mencapai tingkat kesadaran berkeTuhanan yang tertinggi, yaitu bertunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.

"Selama Tuhan tampak di luar dan jauh sekali, selama itu ada kebodohan. Tetapi di mana Tuhan direalisasikan di dalam, itu adalah pengetahuan yang benar." Sri Ramakrishna Paramahamsa (1836-1886)