Tukeran Link Yuk!

Tukeran Link | Backlink | Link Exchange

Random Post

Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitos. Tampilkan semua postingan

3.6.13

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Apakah Bali akan tetap Hindu?

Mengapa Bali tetap Hindu?


Setelah keruntuhan Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen. Bali, menurut mendiang Clifford Geertz, sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali? Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya "A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm" memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.
Di bawah subjudul "Why Bali Remained Hindu" Pringle menulis sebagai berikut : Kenapa, setelah keruntuhan Mahapahit, Bali tetap jauh tinggi (aloof) dari kecendrungan kepulauan Nusantara dan gagal memeluk Islam? Geografi tentu saja bukan jawaban yang cukup; seperti dicatat sebelumnya, Selat Bali yang sempit dan dangkal, yang memisahkan pulau ini dari Jawa, tidak pernah merupakan hambatan serius bagi perobahan. Tentu saja ada hambatan-hambatan kultural bagi penetrasi Islam – kegemaran akan daging babi adalah hal yang sering dikutip – tetapi hambatan yang sama ada di Jawa, di mana konversi kepada Islam sungguh-sungguh, sekalipun sering hanya secara nominal, bersifat universal. 


Orang-orang Bali tidak pernah secara sungguh-sungguh anti Islam. Komunitas Islam terus ada (di Bali) paska Majapahit. Puri-puri dan para penguasa Bali tetap menerima kehadiran orang Muslim sebagai pedagang dan menyewa mereka sebagai tentara. 


Waktu memberikan orang-orang Bali Hindu ruang nafas politik. Tidak ada kerajaan Islam yang kuat di Jawa sampai kemunculan Mataram, yang mulai pada akhir abad 16, hampir seratus tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sementara Mataram mampu mengusir orang-orang Bali dari Belambangan secara temporer, Gelgel dan kerajaan penerusnya tetap kuat yang membuat invasi ke Bali menjadi sulit, dengan atau tanpa dukungan Belanda. (Tambahan dari saya : Bahkan Bali, diwakili oleh Buleleng atau Mengwi mampu menguasai sebagian Jawa Timur. Karangasem menguasai Lombok. Ketika Dalem Samprangan berkuasa, kekuasaannya meliputi Sumbawa. Bali pernah mempersiapkan diri untuk menyerang Mataram).


Bagaimanapun juga, Mataram pertama-tama sibuk dengan saingan-saingannya di Jawa, dan kemudian dengan Belanda, tampaknya tidak tergoda oleh pertimbangan untuk melakukan pengislaman dengan api dan pedang di antara berbagai kantong orang-orang tidak percaya sepanjang pesisir sebelah timur Jawa.


Belakangan, ekspansi Belanda melemparkan Mataram pada posisi defensif. Ketika kekuatan Belanda semakin berkembang, yang akhirnya membuat mereka mampu menguasai saingan-saingan Indonesianya, keuntungan politik yang mungkin didapat oleh para penguasa Bali melalui konversi ke Islam semakin berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali. (hal 70).


Kutipan di atas berasal dari tulisan saya di Media Hindu no 39 dengan judul "Mengapa Bali Tetap Hindu." Sekarang judulnya saya robah agar bernada pesimis. Sebab jika nadanya optimis, akan diabaikan atau dicemoh. Tetapi jika nadanya pesimis mudah-mudahan ada yang marah atau tersinggung, lalu bangun dari kantuknya. Bagi yang apatis tetap akan apatis, apakah nadanya optimis atau pesimis.


Sekala dan Niskala.


Penjelasan singkat di atas menyatakan bahwa ketahanan Hindu di Bali disebab oleh unsur niskala dan sekala. Mana yang lebih dominan? Menurut saya adalah unsur sekalanya. Kenapa?


Kita jawab dulu apa yang dimaksud dengan sekala dan niskala, dalam pengertian umum saja. Sekala adalah segala hal yang dapat kita lihat, kita raba, hal-hal dari dunia materi ini. Niskala, adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat atau diraba, tetapi kita yakini keberadaannya. Atau hal-hal yang bersifat kerohanian seperti kepercayaan akan adanya Tuhan, para Dewa/Betara, sorga, neraka, moksha dll. 


Ketika Hindu berjaya pada jaman Majapahit, unsur niskalanya pasti ada. Tetapi karena unsur sekala diabaikan, maka Hindu runtuh dengan mudah. Majapahit runtuh bukan oleh serbuan tentara asing, tetapi oleh keyakinan asing yang diterima tanpa reserve oleh penguasa dan juga kawula yang beritikad baik dan sangat toleran tetapi tidak waspada. 


Menyerahkan pemeliharaan agama Hindu hanya kepada yang niskala saja, sudah terbukti gagal. Dua buah bangunan yang sama besar, luas dan tingginya, dibuat dari bahan yang sama di tempat yang berdampingan. Satu bangunan untuk tempat ibadah. Bangunan lain untuk kasino, pusat kenikmatan, termasuk yang bersifat seksual. Bangunan pertama tidak diberi penangkal petir, karena yakin Tuhan memelihara "rumahnya". Bangunan kedua, karena sadar tempat ini sangat berbau duniawi diberi penangkal petir. Ketika petir terjadi di wilayah itu, kemungkinan yang akan rusak terbakar adalah "rumah" Tuhan itu. Sedangkan bangunan kasino akan selamat. Hukum alam tidak akan membedakan bangunan suci atau bangunan duniawi, termasuk yang digolongkan maksiat sekalipun.


Di dalam perang antara Kaurawa dengan Pandawa di Kuruksetra, hal itu juga tercermin dengan jelas. Krishna yang merupakan lambang niskala, hanya berfungsi sebagai penasehat. Arjuna, yang merupakan simbol niskala, harus melakukan peperangan untuk menjaga kebenaran. Kenapa demikian? Manusia memiliki otonominya sendirinya; memiliki kebebasan untuk memilih dharma atau adharma. Manusia harus aktif menjaga kebenaran dan kedamaian. Dengan kata lain, yang niskala menghormati kebebasan yang sekala. 


Kembali ke inti pembicaraan, Bali tetap Hindu, karena secara militer waktu itu sangat kuat. Sebelum abad 19 pulau Bali dihindari oleh pelaut asing, karena penduduknya dianggap sangat "savage" Opini ini berobah setelah maskapai pelayaran Belanda, untuk kepentingan pariwisata, membentuk opini Bali sebagai pulau sorga yang damai dan eksotik. 


The Battle of Mind.


Sekarang tentu saja kita tidak perlu menjaga Hindu di Bali secara militer. Sebab "pertempurannya" sekarang tidak memakai pedang, tombak atau keris. Tetapi memakai senjata yagn jauh lebih ekfektif yaitu intelek - "The Battle of Mind" Medannya, dari ruang publik sampai ruang privat. Kotbah-kotbah umum, apakah itu namanya tablig, atau kotbah penyembuhan. Buku-buku pelajaran, pengajaran dan kuliah-kuliah agama di ruang kelas. Tulisan di media massa. Berita, sineteron, kotbah di media elektronik. Yang terakhir ini yang paling hebat. Ia menembus masuk ke ruang-ruang pribadi setiap orang, termasuk kamar-kamar tidur orang-orang Hindu, yang yang berpendidikan tinggi ataupuan yang buta huruf.


Di sinilah kelemahan kita. Orang Hindu hampir tidak ada yang memiliki media massa nasional, cetak maupun elektronik. Media massa ini, khususnya tv, ada beberapa yang memberikan kesempatan bagi siar Hindu. Namun kita belum bisa memanfaatkannya dengan baik. Tv di Bali, yang memberikan slot cukup besar kepada siar Hindu, mutu siarannya masih lemah. Beberapa waktu lalu di sini ada posting yang menyatakan geli mendengar siaran Hindu di tv lokal itu. Bila dibandingkan dengan kotbah pendeta atau ulama dari agama lain yang membangkitkan semangat dan motivasi, dharma wacana orang Hindu masih jauh. 


Di dalam "the Battle of Sword" orang bisa terluka atau mati. Di dalam "the Battle of Mind" pasti tidak akan ada yang luka apalagi mati. Tetapi justru ada kesan orang-orang Bali enggan atau mungkin takut terlibat di dalam "the Battle of Mind." Dulu, seorang pejabat tinggi Ditjen Bimas Hindu dan Buddha, wanti-wanti berpesan agar Media Hindu tidak memuat berita tentang orang-orang agama lain yang kembali (rekonversi) ke Hindu. Padahal berita itu ada sumbernya yang jelas, dan itu terjadi di India. Di tv Indonesia ada berbagai tayangan tentang orang-orang yang baru beralih agama, apakah ke Islam atau Kristen. Mengapa dia takut? Saya tidak tahu karena ia tidak bicara langsung kepada saya. Dia memang bukan representasi seluruh masyarakat Hindu di Indonesia. Tetapi dia juga bukan satu pengecualian.


Pejabat tinggi ini juga meminta kepada Sekolah Tinggi Agama Hindu di Jakarta atau Lampung untuk tidak memberi kuliah perbandingan agama. Bila kita tidak tahu agama-agama lain, bagaimana kita dapat melakukan dialog kritis dengan mereka? Melakukan dialog kritis tidak berarti membenci suatu suatu agama atau pemeluk agama tersebut. Bahkan dialog intelek tidak bisa dilakukan berdasarkan kebencian. Sebab kebencian akan menggelapkan rasio dan dengan demikian melemahkan argumennya.


Oleh karena itu jangan buru-buru melompat pada kesimpulan bahwa memberikan pandangan kritis atau sekedar mengungkap fakta sejarah adalah penghujatan atau upaya menjelek-jelekkan. Agama, seperti ideology, memerlukan kritik untuk memperbaiki dirinya. Sama seperti kita, kita telah mengambil kritik dari luar maupun dari dalam untuk memperbaiki perilaku dan pemahaman keagamaan kita. Jadi setiap pemeluk agama harus bersikap dewasa di dalam hal ini. Kita telah menunjukkan kedewasaan, ketika dikatakan kafir dan penyembah berhala kita tidak berang dan menggangkat pedang.


Tetapi kita perlu mengangkat pedang yang lain, yaitu pedang intelek, untuk memberi penjelasan, bahwa kita bukan menyembah berhala, tetapi menyembah Tuhan, Tuhan yang jauh lebih baik dari tuhan mereka, Tuhan yang adil. Tuhan bagi seluruh mahluk, bukan tuhan yang berpihak pada sekelompok orang, yang menganjurkan kebencian dan kekerasan kepada kelompok yang lain. Dan dengan cara yang lebih indah dan lebih pula.


Dr David Frawley, direktur satu Yoga Center di AS, mengharapkan lahirnya para ksatriya intelektual untuk menjaga eksistensi Hindu. 


Analogi Sumur dan Rakit.


Seorang penganjur bahwa semua agama adalah sama, pernah menulis di Media Hindu, justru karena semua agama sama maka orang tidak perlu pindah-pindah agama. Secara logika pernyataan ini tepat. Kalau semua agama sama buat apa pindah agama? Tetapi ia memberikan argumen yang menarik. Ibarat orang menggali sumur; baru menggali lima meter tidak menemukan air, lalu pindah ke tempat lain, di tempat baru ini ia menggali lima meter, tidak juga bertemu air. Bila terus demikian, maka penggali sumur itu akan sia-sia saja. Oleh karena itu setiap orang seharusnya terus menggali sedalam mungkin, sampai ia menemukan air yang dicarinya. 


Di dalam praktek tidaklah demikian. Kalau setelah menggali sedalam 10 meter, lalu yang ditemukan batu karang, untuk apa diteruskan? Atau bertemu air, tetapi baunya busuk, tentu orang akan pindah mencari lokasi lain untuk digali.


Tetapi secara analogi ini juga tidak tepat. .Seorang teman saya, orang Protestan, dengan gelar master dobel, satu dari AS, satu dari Australia, berkata kepada saya. "Bapak akan puas, bila dapat menundukkan diri sendiri. Karena agama bapak meminta bapak melihat ke dalam. Kalau saya lain lagi. Saya baru akan puas, ketika saya dapat menundukkan bapak agar ikut agama saya."


Dia adalah orang awam sama seperti saya. Tetapi pendapatnya itu ada dasarnya dalam Injil, yaitu perintah bagi setiap orang Kristen untuk pergi ke segala penjuru bumi, dan menjadikan bangsa-bangsa murid Yesus. Islam jug demikian. Nabi mereka, sampai akhir hayatnya meminta para pengikutnya untuk terus berjihad menjadikan Islam satu-satunya agama bagi dunia. 


Bila semua agama memerintahkan pengikutnya untuk "menggali sumur" atau melihat ke dalam sampai berjumpa dengan "dirinya sendiri" dunia ini pasti akan aman dan damai. Tetapi nyatanya tidak demikian. 


Ketika si Hindu sibuk menggali sumur semakin dalam, si Kristen dan si Islam sibuk berebut wilayah sekitar sumur. Ketika si Hindu kembali dari kedalaman bumi membawa air murni sambil meproklamirkan "semua air sama saja" ia menemukan air itu hanya berguna bagi dirinya sendiri, karena wilayahnya sudah dimiliki si Kristen atau / bersama si Islam. Si Kristen dan si Islam tidak membutuhkan air yang diambil dari inti bumi. Bagi mereka air sungai atau pancuran sudah cukup.


Apakah si Hindu harus memasang pagar atau menyewa centeng untuk menjaga wilayahnya? Ini bertentangan dengan prinsip yang diyakininya. Bila ia melakukan itu, artinya ia melaksanakan apa yang ditolaknya, bahwa agama mengkotak-kotakkan dan bahwa agama tidak perlu dibela. Jadi ia dapat lepas dari dilemma ini, hanya bila ia melepaskan identitas Hindunya.


Analogi rakit, agama hanya sekedar rakit, agak berbeda tetapi menghadapi dilemma yang sama. Analogi ini ada benarnya. Tetapi siapapun yang membuat analogi ini hanya melihatnya dari agama Hindu saja. Bagi Hindu dan juga Buddha, benar, agama hanyalah sarana untuk menyeberangkan manusia dari wilayah kehidupan sampai di batas wilayah kematian (atau kehidupan yang lain). Di dunia kehidupan yang lain itu agama memang tidak disebut-sebut lagi.


Tetapi bagi keyakinan Kristen atau Islam tidak demikian. Agama tidak berhenti sampai di tepi kehidupan dunia lain itu, yang mereka sebut dunia akhirat. Agama terus masuk sampai ke inti kehidupan akhirat. Bagi keyakinan orang Kristen, keyakinan mereka akan kebenaran Yesus sebagai Tuhan, atau Putra Allah, yang menyelamatkan mereka. Bagi orang Islam keyakinan mereka kepada Islam dan Muhammad sebagai Nabi akan menyelamakan atau menjamin sorga bagi mereka. Menurut Islam, ketika ia mati dan sampai di pintu alam kubur, dua orang malaikat akan menanyai apa agama dan siapa nabinya. Bila agamanya bukan Islam dan nabinya bukan Muhammad maka jiwa orang itu akan mendapat siksaan kejam. Dan di dalam persidangan pada hari Pengadilan Akhir, Muhammad akan memberi rekomendasi siapa yang masuk sorga atau neraka secara abadi. Allah akan memerima rekomendasi itu.


Di dalam kedua agama ini keyakinan, bukan perbuatan yang menentukan status seseorang di dunia akhirat. Apakah keyakinan semacam ini absurd atau tidak, itulah keyakinan yang dipercayai oleh mereka. 


Jadi di sini analogi rakit menghadapi kesulitannya sendiri. Dan ia hanya melepaskan diri dari kesulitan ini, dengan melepaskan indentitas Hindunya. Tapi apa perdulinya dengan Hindu? Toh hanya rakit. Yang penting ia bebas. Sebuah solusi, yang sayangnya, bersifat mementingkan diri sendiri. Ego.


Kesamenis : Sekutu missonaris 


Pendirian atau pernyataan, seperti "semua agama adalah sama", "agama hanya sekedar rakit", "Sang Hyang Widdhi, Sang Hang Yesus, Allah SWT sama saja" oleh Dr Frank Gaetano Morales (Semua Agama Tidak Sama) disebut sebagai Radical Universalism, atau saya terjemahkan sebagai kesamensime. Sikap ini biasanya dianut oleh orang-orang Hindu. Pada saat lembaga dakwah atau missi agama-agama lain, khususnya Kristen dan Islam begitu gencar menyebarkan agamanya, sikap ini hanya melemahkan posisi Hindu di dalam "the Battle of Mind." Lebih-lebih jika yang mengatakan itu tidak pernah mempelajari agama-agama lain. Ini adalah sikap arogan dari orang yang tidak tahu. Dan sikap semacam ini akan sangat menguntungkan para missionaries, Kristen ataupaun Islam, di dalam upaya mengkonversi orang-orang Hindu di Bali.


Sejalan dengan mereak adalah kelompok yang ingin memisahkan budaya "Bali dengan agama Hindu" untuk membenarkan penggunaan idiom-idiom, dan praktek-praktek Hindu Bali oleh agama-agama lain. "Karena itu adalah budaya Bali, bukan agama Hindu," katanya. Ini adalah sikap permisif yang bersumber pada kemalasan berpikir atau bahkan impotensi intelektual, yang makin memperlemah pertahanan Hindu.


Mempercepat "Perobahan" Bali.


Ada kelompok sampradaya yang berupaya untuk membuang ritual Hindu (ala) Bali dan menggantinya dengan hanya agnihotra, homayajna, atau ritual khas sampradayanya. Tetapi ada juga kelompok sampradaya, yang di samping melakukan ritual sesuai aturan sampradayanya juga menerima ritual Hindu ala Bali. Saya mendapat informasi kelompok sampradaya Hare Krishna, di Bali terbagi dalam dua kelompok. Yang menolak upakara ala Hindu-Bali yang tergabung dalam SAKKHI, dan yang menerima, yaitu yang tergabung dalam ISKCON. Pengikut Sai Baba dalam Anggaran Dasarnya terakhir menyatakan diri bukan sampradaya, tetapi hanya kelompok untuk studi Weda. Jika info ini tidak benar silahkan dikoreksi. 


Dua orang sulinggih yang menjadi tokoh PHDI Besakih dan pimpinan tertinggi Parisada, mengenai ritual kelompok sampradaya yang dilakukan di lapangan Renon pada awal tahun 2006, mengatakan "Itu agama baru. Mereka seharusnya melakukan itu di dalam tempat ibadah mereka sendiri. Bukan di tempat umum!" Pernyataan kedua sulinggih ini saya dengar langsung di suatu griya di Denpasar. Kalau sulinggih dari "kelompok Besakih" saja sudah berpendapat demikian, apalagi sulinggih dari kelompok lain.


Dengan dukungan strategi dakwah yang terencana dan berpengalaman, dana untuk perbedayaan ekonomi dan pendidikan, media massa untuk pembentukan opini, dan birokrasi (dalam kasus Islam) yang memberi kemudahan fasilitas ataupun kesempatan, para missonaris, baik Kristen maupun Islam, akan memperoleh manfaat besar dari ketiga kelompok di atas. Ketiga kelompok di atas, kaum kesamenis, "separatis" yang membedakan antara budaya Bali dengan agama Hindu, dan sampradaya yang membuang ritual ala Hindu Bali, bergabung jadi satu, akan merupakan akselarator perobahan Bali dari Hindu, apakah menjadi Bali Kristen atau Bali Islam. Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh ketiga kelompok ini adalah semacam bunuh diri massal.


Pendapat saya belum tentu benar. Tapi tolong tunjukkan kepada saya, dari segi apa ketiga pendapat atau kelompok di atas memperkuat Hindu di Bali?


Om santi, santi, santi Om


Ngakan Putu Putra.
Source : HDNet

12.3.13

Kejujuran orang Bali Realitas ataukah sebuah Mitos?

Saya teringat, ketika saya masih kecil, sekitar akhir tahun 50an, di kampung saya ada seorang laki-laki yang bangga sekali karena pernah dipenjara di Nusa Kambangan. Sebabnya karena ia mencuri seekor babi. Saya tidak tahu mengapa hanya karena mencuri seekor babi, seorang dipenjara di Nusa Kambangan? Apakah di Bali pada waktu itu tidak cukup penjaranya? Sekarang kita tahu, Nusa Kambangan adalah penjara tempat mengurung penjahat besar, seperti para gembong teroris, sekelas Iman Samudra, Amrozy, Ali Gufron dkk, pembunuh hakim agung, gembong narkotik dan sekelasnya. Tetapi pada waktu itu juga Nusa Kambangan telah memiliki nama besar dan ini dipahami dan dimanfaatkan oleh orang kampung saya itu.

Setiap waktu dia ingin menunjukkan kewibawaannya terhadap orang lain, ia akan mengatakan : “Ne jeleme suba taen di Nusa Kambangan” (Ini manusia sudah pernah di Nusa Kambangan). Dan orang yang mendengar itu akan jerih dan ciut nyalinya. Tapi satu kali ia kena batunya. Ada orang yang berani bertanya. Ketika mantan narapidana ini ingin menunjukkan kuasa dengan kalimat ampuh “Ne jeleme……” orang yang berani itu segera memotong, “Memangnya kenapa sampai bapak di Nusa Kambangan?” Mantan narapidana ini diam. Mungkin dia malu dipenjarakan di Nusa Kambangan hanya karena mencuri seekor babi. Andaikata ia dipenjara di tempat jauh dan seram itu karena membunuh seorang jagoan yang mengacau desa, atau karena korupsi miliaran rupiah seperti pegawai pajak itu, barangkali dia tidak akan malu.

Seorang penceramah senior di Jakarta, sering kali mengungkapkan kebanggaannya akan kejujuran orang Bali. Coba lihat penjara-penjara di Bali, jarang narapidananya orang Bali. Kalau ada, biasanya karena pembunuhan, atau rebutan warisan, tidak ada karena pencurian atau perampokan, katanya.

Seorang kawan sekerja bertanya kepada saya tentang kejujuran orang Bali. Betulkah rumah-rumah di Bali tidak dikunci pintunya? Apa yang menyebabkan orang Bali jujur? Apakah itu masih ada sekarang ini? Saya jawab, dulu kalau ada orang mencuri dan tertangkap, dia akan diarak keliling desa dengan membawa barang hasil curiannya, diiringi gamelan bebonangan. Ini akan membuat si pencuri sangat malu. Dan ini akan membuat efek pencegahan bagi yang lain.

Memang benar rumah-rumah di kampung saya sampai sekarang tidak pernah dikunci pintunya, baik pintu gerbang untuk masuk pekarangan, maupun pintu kamarnya. Sepanjang ingatan saya, kami di rumah memang tidak pernah kecurian. Tetapi bukan tidak pernah kecurian sama sekali. Bapak saya pernah kehilangan seekor kucit (anak babi) di ladang. Pernah kehilangan buah vanili yang siap di panen, pernah kehilangan banyak ikan di kolam di sawah. Saya dan paman sendiri pernah mencuri bubu. Tapi ini ada unsur pembenarnya: kami marah dan tersing-  gung karena yang memasang bubu di sawah kami adalah orang dari lain desa. Sekalipun demikian tidak semua bubunya kami ambil, kami masih tinggalkan sebagian, karena si pemilik bubu berteriak dari seberang sungai, “jangan ambil semua pak. Itu untuk biaya sekolahkan saya.” Tentu yang terakhir ini tidak saya ceritakan ke teman kantor saya ini.

Sebaliknya seorang teman lain berkomentar agak sinis, ketika seorang kepala penjara di Denpasar malah masuk penjaranya sendiri karena sengaja melepaskan seorang nara pidana narkotik dari Australia. “Katanya orang-orang Bali orang-orang jujur,” kata teman ini. “Dia memang orang Bali, tetapi sudah bukan Hindu lagi,” kata saya waktu itu. Jawaban saya mungkin arogan, seolaholah bila orang Bali masih beragama Hindu, dia pasti tidak akan melakukan kejahatan. Atau paling sedikit orang Bali yang masih beragama Hindu lebih jujur dari orang yang beragama lain. Tapi bagaimana metode perbandingannya?

Seorang teman kantor yang lain lagi meminta saya menemaninya ke Bali, karena ada urusan ijin pembangunan sarana transmisi telekomunikasi. Saya mau saja, karena sekalian dapat pulang kampung. Ketika kami berangkat ke kantor kepala daerah, kawan ini membawa uang puluhan juta rupiah dalam tas plastic yang ditentengnya. Katanya uang itu bantuan operasional pemilu. Dia meminta saya agar menunggu di tempat parkir, tidak boleh ikut masuk, karena mungkin penyerahan “bantuan” ini akan gagal, barangkali pejabatnya malu kalau ada orang Bali yang ikut melihat transaksi ini. Dia masih berpikir positif, antara orang Bali tidak mungkin sogok menyogok. Itu perbuatan yang memalukan karena hukum karma yang mereka percayai. Begitu barangkali pikirnya.

Sekarang desas desus ramai sekali, bahwa seorang kepala daerah di Bali kerjanya hanya mengutip sogokan dari orang-orang yang ingin jadi pegawai, yang tentunya orang-orang Bali juga. Katanya untuk menjadi pegawai di pemda seorang sarjana harus bayar upeti sekitar 150 – 200 juta rupiah.

Ada kepala daerah yang memiliki pabrik miras, yang membuat teler orangorang sekampungnya, dan dia dilaporkan oleh mantan ketua DPRD ke KPK, karena mark up pembelaian tanah untuk rumah sakit, tapi sampai sekarang tidak jelas ujungnya. Kepala daerah yang lain menjadikan anak dan istrinya sebagai calo proyek. Entah benar entah tidak. Yang sudah menjadi fakta hukum, karena sudah diadili dan dihukum adalah adik seorang bupati yang terlibat pembunuhan terhadap seorang wartawan, karena wartawan ini mengungkapkan kkn yang dilakukannya terkait proyek-proyek di kantor kakaknya. Ada pula seorang mantan bupati yang diadili karena korupsi. Yang lebih memprihatinkan lagi pencuri pratima (lambang Tuhan yang disucikan) di beberapa pura ternyata orang Bali sendiri, yang masih beragama Hindu, hanya penadahnya orang Italia.

Tetapi ada juga hal yang menggembirakan, yaitu kantor Wali Kota Denpasar merupakan kantor terbersih dari korupsi di antara kantor bupati dan kota di Indonesia, yagn disurvei oleh Transparansi Internasional Indonesia. Kantor ini memperoleh nilai tertinggi 6 dari skala 10. Jadi tidak bersihnya cuma atau tinggal 4.

Belakangan ini ada dua orang Bali yang sering namanya masuk media massa, cetak dan elektronik, karena terkait korupsi. Yang satu seorang penjabat eselon dua di Kemennakertran, yang satu lagi seorang anggota DPR. Pejabat eselon dua ini, rupanya ketiban sial, terpaksa harus menerima uang titipan THR lebaran untuk menterinya, karena orang yang seharusnya menerima uang itu tidak datang pada saat pengusaha menyerahkannya. Dan ia tertangkap tangan oleh KPK. Yang menarik, sebuah surat kabar nasional ketika meliput rumah orang ini, menyebutkan, di rumahnya di Depok terdapat pura (maksudnya merajan). Boleh kita katakan, pejabat ini terlibat tindakan korupsi karena perintah atasannya. Ia sebenarnya orang Bali yang jujur, tetapi terpaksa melakukan tindakan tercela karena tekanan dari atasannya. Atau apologi yang lain.

Sedangkan yang anggota DPR kita ini diisukan terkait dengan kasus korupsi Muhammad Nazaruddin, yang menggegerkan Indonesia selama beberapa bulan belakangan ini. Sebelum menjadi anggota DPRRI, ia adalah seorang yang aktif dalam kegiatan umat Hindu. Setelah jadi anggota DPR ia sangat murah hati menyumbang untuk pura, untuk kegiatan PHDI, seperti dharma santi, misalnya. Orang-orang Bali yang mengenal sepak terjangnya, berkata, “kasihan dia.” Orang-orang Bali yang tidak mengenalnya, berkata, “Malu-maluin Bali saja.” Tetapi ada juga yang menanggapinya dengan guyonan hitam, “jangan-jangan panitia dharma santi akan diseret jadi saksi”.

Tulisannya ini dibuat dengan menghormati azas praduga tak bersalah. Kita hormati proses hukum, tetapi tetap memberi simpati kepada kawan yang tertimpa kesulitan, apapun sebabnya.

“Bukti terbesar dari ketidak-jujuran orang Bali adalah kecurangan dan pelanggaran moral yang dilakukan oleh oknum-oknum PHDI Bali, termasuk pandita, dalam Maha Sabha X yang lalu.”

Mungkin akan ada yang berkomentar tentang tulisan ini, seperti “mekecuh mot menek” (meludah ke atas – akibatnya akan menimpa muka sendiri). Tulisan ini hanya sekedar ajakan untuk mulat sarira, apakah kejujuran orang Bali suatu realitas atau hanya sekedar mitos? Apapun jawaban atas pertanyaan ini kita simpan saja dalam hati masing-masing.

Ini juga sebuah peringatan bagi orang-orang non-Bali, jangan berlebihan menganggap dan mengharap soal kejujuran orang Bali. Sekalipun Bali disebut Pulau Dewata, penghuninya secara sekala, yang kelihatan, bukanlah para dewata, tetapi manusia yang dibuat dari jiwa dan daging, purusa dan prakerti. Mereka adalah manawa yang ada sedikit di atas danawa dan sedikit pula di bawah dewata. Danawa menariknya ke bawah Dewata menariknya ke atas. Seperti para raksasa dan dewata yang berjuang satu sama lain merebut tirta amerta dalam mitologi pemutaran lautan susu. Siapakah yang akan menang? Yang menang adalah yang dipelihara dan diberi perhatian lebih banyak.

Oleh : Ki Temesi

Source : Media Hindu